Jakarta, 10 Mei 2026 – Konsep pembangunan kota yang mengedepankan pendekatan manusiawi kembali menjadi perhatian publik setelah kisah penataan kawasan Kampung Akuarium di Jakarta dinilai berhasil menghadirkan solusi tanpa harus menggusur warga dari lingkungan tempat tinggal mereka. Model pembangunan tersebut kini banyak disebut sebagai contoh bahwa modernisasi kota tidak selalu harus mengorbankan kehidupan masyarakat kecil.
Kampung Akuarium yang berada di kawasan pesisir Jakarta Utara sempat menjadi simbol konflik tata ruang perkotaan beberapa tahun lalu. Namun setelah melalui proses panjang, kawasan tersebut perlahan berubah menjadi contoh penataan ulang permukiman yang lebih inklusif. Pemerintah memilih pendekatan pembangunan berbasis partisipasi warga dengan tetap mempertahankan komunitas yang telah lama tinggal di lokasi tersebut.
Penataan kawasan dilakukan dengan membangun hunian yang lebih layak, memperbaiki sanitasi, akses jalan, hingga fasilitas umum tanpa memindahkan warga jauh dari sumber penghidupan mereka. Langkah ini dinilai mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketidakpastian.
Banyak pengamat tata kota menyebut pendekatan seperti ini penting diterapkan di kota-kota besar Indonesia yang menghadapi persoalan kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan. Pembangunan yang terlalu berorientasi pada proyek fisik tanpa mempertimbangkan aspek sosial sering kali memicu konflik baru, terutama ketika masyarakat kehilangan tempat tinggal maupun akses ekonomi.
Selain mempertahankan ruang hidup warga, konsep pembangunan tanpa penggusuran juga dianggap mampu menjaga identitas budaya lokal. Lingkungan kampung yang telah terbentuk selama puluhan tahun menyimpan nilai sosial, sejarah, dan solidaritas yang sulit digantikan oleh kawasan hunian modern yang seragam.
Sejumlah aktivis perkotaan menilai keberhasilan penataan Kampung Akuarium dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain dalam menyelesaikan persoalan permukiman padat. Pendekatan dialog, keterlibatan warga, dan pembangunan bertahap dianggap lebih efektif dibanding kebijakan relokasi paksa yang kerap memicu penolakan.
Di tengah pesatnya urbanisasi, tantangan pembangunan kota ke depan bukan hanya soal membangun gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki ruang hidup yang adil dan layak. Kampung Akuarium menjadi pengingat bahwa kota yang maju tidak selalu dibangun dengan menggusur, melainkan dengan merangkul warganya untuk tumbuh bersama.