Jakarta, 8 September 2026 – Prajurit Korps Marinir dari Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan mengasah kemampuan tempur darat melalui rangkaian Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 di lingkungan Brigif 4 Marinir/BS, Lampung. Latihan yang berlangsung pada Senin, 7 September 2026 tersebut melibatkan Marinir TNI Angkatan Laut, United States Marine Corps (USMC), unsur Jepang, serta Republic of Korea Marine Corps (ROK MC). Para personel menjalani sejumlah simulasi untuk meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai situasi pertempuran di darat. Materi latihan mencakup patroli, serangan terhadap wilayah lawan, hingga menghadapi serangan mendadak atau ambush. Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan dapat diselesaikan dengan aman tanpa insiden.
Latihan tempur darat tersebut dirancang agar setiap personel tidak hanya menguasai kemampuan individu, tetapi juga mampu bergerak sebagai bagian dari satuan multinasional. Dalam skenario patroli, misalnya, prajurit dituntut memahami medan, menjaga formasi, melakukan pengamatan, serta merespons dengan cepat ketika muncul ancaman. Ketika memasuki simulasi serangan, koordinasi antarpersonel menjadi semakin penting karena setiap unsur mempunyai tugas berbeda dalam mendukung pencapaian sasaran. Perbedaan prosedur dan pengalaman tempur dari masing-masing negara sekaligus menjadi kesempatan untuk bertukar teknik serta pendekatan operasi. Melalui pola latihan tersebut, kemampuan bekerja bersama di lapangan dapat dibangun secara langsung dan tidak berhenti pada koordinasi di tingkat komando.
Rangkaian latihan di Lampung bukan menjadi satu-satunya kegiatan yang diikuti marinir dari berbagai negara selama SGS 2026. Beberapa hari sebelumnya, prajurit dari Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan juga mengikuti latihan menembak melalui Infantry Marksmanship Training Program serta latihan pengintaian Scout Stalking di Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Dalam latihan menembak, personel mengasah ketepatan sasaran, kecepatan mengganti magazen, serta kemampuan melepaskan tembakan secara terukur dari posisi diam maupun bergerak. Sementara melalui Scout Stalking, kemampuan menyamarkan diri, melakukan pengamatan, memanfaatkan kondisi medan, dan bergerak tanpa mudah diketahui lawan turut diuji. Kombinasi kedua materi tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus disiplin prajurit dalam menghadapi kondisi operasi yang berubah dengan cepat.
Kemampuan bertempur pada kondisi minim cahaya juga menjadi bagian dari rangkaian latihan yang digelar di Lampung. Prajurit menjalani latihan menembak malam dengan memanfaatkan perangkat Night Vision Goggles (NVG), sekaligus menerapkan disiplin penggunaan cahaya agar posisi pasukan tidak mudah diketahui. Personel juga harus menjaga akurasi bidikan terhadap sasaran dalam kondisi gelap dan tetap mampu melakukan pergerakan secara taktis. Penguasaan medan serta navigasi malam menjadi bagian penting karena operasi militer dapat berlangsung tanpa dukungan pencahayaan yang memadai. Latihan semacam ini memberi kesempatan kepada pasukan dari negara berbeda untuk membandingkan teknik dan prosedur sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi dalam operasi bersama.
SGS 2026 sendiri merupakan latihan gabungan multinasional berskala besar yang berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026. Sebanyak 4.743 personel dari 21 negara terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Bandung, Jakarta, Lampung, Pusat Latihan Tempur Baturaja di Sumatera Selatan, serta Nunukan di Kalimantan Utara. Negara peserta antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Prancis, Jerman, India, Singapura, Thailand, Kanada, Selandia Baru, dan sejumlah negara lainnya. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebut terdapat 12 materi yang dilaksanakan dalam SGS tahun ini. Skala keterlibatan tersebut menjadikan latihan sebagai salah satu sarana untuk menguji kesiapan operasional sekaligus meningkatkan hubungan pertahanan dengan negara-negara sahabat.
Materi SGS 2026 juga dibuat cukup luas sehingga tidak hanya berfokus pada kemampuan tempur konvensional. Latihan mencakup Staff Exercise, Cyber Exercise, bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana atau HADR, serta Field Training Exercise. Pada bagian latihan lapangan terdapat materi operasi lintas udara, operasi udara, pasukan operasi khusus, unsur angkatan laut, pasukan marinir, pertempuran darat, serangan gabungan darat, hingga evakuasi medis. Variasi tersebut memungkinkan peserta menguji kemampuan menghadapi berbagai spektrum operasi, mulai dari pertempuran sampai penanganan kondisi darurat yang membutuhkan koordinasi lintas satuan. Bagi Korps Marinir, rangkaian latihan menjadi kesempatan mengintegrasikan kemampuan infanteri dengan unsur pendukung lainnya dalam lingkungan operasi multinasional.
Kesiapan sistem persenjataan juga diuji dalam rangkaian SGS tahun ini. Batalyon Roket 1 Marinir mengerahkan sistem peluncur roket MLRS RM-70 Vampire dalam latihan penembakan bersama unsur Armed TNI Angkatan Darat dan US Army di Puslatpur Martapura, Baturaja, pada 7 September. Latihan tersebut turut menggunakan sistem Astros dan HIMARS sebagai bagian dari pengujian kemampuan serta interoperabilitas antarsatuan. Penembakan MLRS Vampire dilaporkan berlangsung aman dan menghasilkan tembakan sesuai sasaran yang telah ditentukan. Pengoperasian beberapa jenis sistem senjata dalam satu rangkaian latihan memberikan pengalaman bagi personel untuk memahami mekanisme koordinasi dukungan tembakan dalam operasi bersama.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, latihan bersama mempunyai tujuan memperkuat interoperabilitas atau kemampuan pasukan dari negara berbeda untuk menjalankan operasi secara terkoordinasi. Perbedaan bahasa, perlengkapan, doktrin, serta prosedur operasi menjadi tantangan yang harus diatasi ketika beberapa militer bekerja dalam satu skenario. Latihan lapangan memungkinkan hambatan tersebut diuji secara langsung sehingga setiap unsur dapat memahami prosedur komunikasi dan pola pengambilan keputusan satu sama lain. Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Endi Supardi sebelumnya menilai keterlibatan Korps Marinir dalam SGS menjadi momentum untuk meningkatkan profesionalisme sekaligus interoperabilitas dengan pasukan negara sahabat. Hubungan antarpersonel yang terbentuk selama latihan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan untuk mendukung kerja sama pertahanan jangka panjang.
Super Garuda Shield 2026 masih akan berlangsung hingga 11 September sebelum rangkaian kegiatan ditutup di Jakarta. Selama periode tersebut, ribuan personel dari negara peserta menjalankan berbagai skenario yang dirancang untuk meningkatkan kesiapan operasi, kemampuan koordinasi, serta pemahaman terhadap prosedur masing-masing militer. Bagi Marinir TNI AL, latihan tempur darat bersama pasukan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan prajurit sekaligus mempelajari teknik yang diterapkan militer negara lain. Pengalaman dari patroli, pengintaian, pertempuran darat, penembakan malam hingga penggunaan sistem persenjataan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi peningkatan profesionalisme pasukan. SGS sekaligus menjadi bagian dari diplomasi pertahanan Indonesia dalam memperkuat kemitraan dan membangun kemampuan bersama menghadapi berbagai tantangan keamanan di kawasan.