Jakarta, 18 September 2026 – Posisi Low Tuck Kwong dalam daftar orang terkaya Indonesia mengalami perubahan setelah nilai kekayaannya turun tajam seiring pelemahan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Berdasarkan pembaruan Forbes Real-Time Billionaires pada pertengahan September 2026, kekayaan pengusaha batu bara tersebut sempat berkurang sekitar 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp44,37 triliun dengan asumsi kurs Rp17.750 per dolar AS. Penurunan sekitar 14,6 persen itu membuat nilai kekayaannya sempat berada di kisaran 14,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp262,69 triliun. Akibatnya, Low turun ke posisi ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia. Robert Budi Hartono dan Prajogo Pangestu berada di atasnya berdasarkan pembaruan nilai kekayaan pada periode tersebut. Perubahan peringkat ini menunjukkan besarnya pengaruh pergerakan harga saham terhadap estimasi kekayaan miliarder yang sebagian besar asetnya berbentuk kepemilikan perusahaan terbuka.
Penyusutan kekayaan Low terjadi setelah saham Bayan Resources mengalami tekanan besar selama dua hari perdagangan berturut-turut. Pada Selasa, 15 September 2026, saham BYAN tercatat turun sekitar 8,1 persen menjadi Rp10.200 per saham setelah sehari sebelumnya merosot sekitar 10,1 persen. Pergerakan tersebut langsung memengaruhi valuasi kepemilikan Low karena Bayan menjadi sumber utama kekayaannya. Dalam hitungan hari, perubahan harga saham mampu menghapus puluhan triliun rupiah dari estimasi nilai asetnya. Kondisi itu juga membuat posisi Low dalam peringkat kekayaan berubah dengan cepat. Namun, estimasi kekayaan miliarder bersifat dinamis dan dapat kembali meningkat apabila harga saham perusahaan yang dimilikinya menguat.
Perubahan tersebut terlihat ketika saham BYAN berbalik menguat pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga saham membuat estimasi kekayaan Low kembali bertambah menjadi sekitar 16,2 miliar dolar AS pada sore hari. Meski mengalami pemulihan, posisinya pada saat itu masih berada di peringkat ketiga orang terkaya Indonesia. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa angka kekayaan dalam daftar real-time tidak bersifat tetap karena mengikuti perubahan nilai aset di pasar. Dalam pembaruan Forbes pada 16 September, Low bahkan tercatat sebagai salah satu miliarder dengan kenaikan kekayaan harian terbesar, yakni sekitar 1,4 miliar dolar AS atau 9,2 persen. Fluktuasi besar dalam waktu singkat itu berkaitan erat dengan pergerakan saham Bayan Resources.
Tekanan terhadap saham Bayan muncul ketika perusahaan menghadapi persoalan terkait kegiatan produksi tiga anak usahanya. PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima belum memperoleh persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB 2026 dari pemerintah. Ketiga perusahaan tersebut kemudian menyampaikan pemberitahuan keadaan kahar atau force majeure terhadap kewajiban penyediaan batu bara kepada pelanggan pada 11 September 2026. Bayan menyatakan revisi kuota produksi diperlukan agar kegiatan produksi dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan operasional. Belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB tersebut memengaruhi kemampuan perusahaan dan anak usahanya memenuhi kewajiban kepada pelanggan. Situasi ini kemudian menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar terhadap saham BYAN.
Pergerakan saham BYAN sebenarnya telah mengalami tekanan selama beberapa pekan sebelum penurunan tajam pada pertengahan September. Saham perusahaan tersebut sempat berada di level sekitar Rp17.272 pada 18 Agustus 2026 sebelum mengalami koreksi signifikan. Hingga perdagangan 15 September, nilainya telah turun sekitar 41 persen dibandingkan posisi 19 Agustus. Selain persoalan produksi dan RKAB, pasar juga mencermati pemberitaan mengenai kemungkinan transaksi kepemilikan saham Bayan. Kombinasi sejumlah sentimen tersebut membuat volatilitas saham meningkat dan secara langsung berdampak pada nilai kekayaan pemegang saham utamanya. Karena sebagian besar kekayaan Low terhubung dengan kepemilikannya di Bayan, perubahan kapitalisasi pasar perusahaan memiliki dampak besar terhadap estimasi kekayaan pribadinya.
Low bersama putrinya, Elaine Low, diketahui menguasai sekitar 62 persen saham Bayan Resources. Kepemilikan besar tersebut menjadi salah satu alasan perubahan harga BYAN mempunyai dampak sangat signifikan terhadap estimasi kekayaan keluarga. Dalam perkembangan lain, muncul laporan mengenai pembicaraan kemungkinan penjualan kepemilikan tersebut. Entitas yang dikendalikan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam disebut menawarkan sekitar 3 miliar dolar AS secara tunai untuk membeli saham tersebut. Nilai tawaran itu mencerminkan valuasi Bayan sekitar 4,8 miliar dolar AS dan jauh berada di bawah kapitalisasi pasar perusahaan pada awal September 2026. Belum terdapat kepastian bahwa pembicaraan tersebut akan menghasilkan transaksi final, sehingga perkembangan mengenai kepemilikan Bayan masih menjadi perhatian pasar.
Low membangun Bayan Resources setelah sebelumnya memulai aktivitas bisnis di sektor konstruksi. Ia pindah dari Singapura ke Indonesia dan kemudian menjadi warga negara Indonesia pada 1992. Lima tahun setelah memperoleh kewarganegaraan Indonesia, Low membeli konsesi batu bara pertamanya di Kalimantan. Bayan kemudian didirikan pada 2004 dan berkembang menjadi salah satu perusahaan pertambangan batu bara besar di Indonesia. Fokus Low pada bisnis batu bara membuat nilai kekayaannya sangat dipengaruhi perkembangan industri tersebut serta pergerakan harga saham perusahaan. Selama bertahun-tahun, peningkatan valuasi Bayan menjadi faktor utama yang membawanya masuk ke kelompok teratas orang terkaya di Indonesia.
Perubahan peringkat pada September juga menunjukkan ketatnya posisi sejumlah konglomerat Indonesia dalam daftar kekayaan real-time. Pada saat kekayaan Low turun menjadi sekitar 14,8 miliar dolar AS, Robert Budi Hartono tercatat memiliki sekitar 16,5 miliar dolar AS. Prajogo Pangestu juga berada pada kisaran yang sama dan menjadi salah satu nama yang berada di atas Low. Forbes mencatat kekayaan real-time Prajogo sekitar 16,2 miliar dolar AS pada pembaruan 16 September 2026. Namun, angka-angka tersebut dapat berubah dari satu hari perdagangan ke hari berikutnya karena sebagian kekayaan mereka berasal dari saham perusahaan publik. Karena itu, posisi orang terkaya Indonesia dapat bergeser tanpa adanya transaksi tunai dalam jumlah besar oleh pemilik aset.
Perubahan kekayaan Low sepanjang 2026 juga memperlihatkan besarnya volatilitas yang dapat terjadi pada miliarder berbasis kepemilikan saham. Pada 18 Agustus 2026, misalnya, Forbes Real-Time Billionaires sempat mencatat kekayaan Low mencapai sekitar 22,9 miliar dolar AS setelah meningkat sekitar 3,4 miliar dolar AS dalam satu pembaruan. Hanya sekitar satu bulan kemudian, tekanan terhadap saham BYAN membuat estimasi kekayaannya sempat turun hingga 14,8 miliar dolar AS. Perbedaan tersebut tidak berarti seluruh nilai tersebut diterima atau hilang dalam bentuk uang tunai. Estimasi kekayaan bersih terutama berubah karena nilai pasar saham yang dimiliki ikut naik atau turun. Kondisi tersebut menjadi alasan daftar miliarder real-time dapat memperlihatkan perubahan bernilai miliaran dolar AS hanya dalam satu sesi perdagangan.
Dengan demikian, penyusutan sekitar Rp44 triliun yang dialami Low Tuck Kwong pada awal pekan terutama mencerminkan perubahan nilai kepemilikannya setelah saham Bayan Resources merosot tajam. Kekayaannya sempat turun menjadi sekitar 14,8 miliar dolar AS dan membuatnya bergeser ke posisi ketiga orang terkaya Indonesia sebelum kemudian kembali meningkat ketika BYAN menguat. Perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan saham Bayan, penyelesaian persoalan RKAB tiga anak usaha, serta kabar mengenai kemungkinan perubahan kepemilikan perusahaan. Seluruh faktor tersebut berpotensi terus memengaruhi valuasi BYAN dan estimasi kekayaan Low dalam daftar real-time. Perubahan peringkat karena itu masih dapat terjadi mengikuti perdagangan saham berikutnya. Posisi kekayaan miliarder yang berbasis aset pasar modal pada dasarnya merupakan gambaran nilai aset pada saat tertentu, bukan jumlah uang tunai yang mereka miliki.