Jakarta, 30 Agustus 2026 – Otoritas Nepal mulai melakukan pemakaman sementara secara massal terhadap korban banjir yang belum berhasil diidentifikasi. Langkah tersebut diambil setelah jumlah jenazah yang ditemukan terus bertambah, sementara kapasitas kamar jenazah dan fasilitas penyimpanan sudah tidak mencukupi.
Pemakaman dilakukan di kawasan Devghat, Distrik Chitwan, sekitar 200 kilometer dari wilayah Rasuwa yang menjadi salah satu titik terparah bencana. Jenazah korban terseret hingga jauh ke hilir Sungai Bhotekoshi dan Trishuli sebelum ditemukan oleh tim pencarian.
Jenazah Sulit Dikenali
Proses identifikasi menghadapi kendala besar karena banyak jenazah telah mengalami pembusukan setelah terendam air selama berhari-hari. Sebagian lainnya ditemukan dalam kondisi tidak utuh akibat terseret arus, tertimbun lumpur, dan material banjir.
Kepolisian Nepal mencatat dari ratusan jenazah yang telah ditemukan, sebagian besar belum dapat dikenali secara visual. Kondisi tersebut membuat keluarga korban kesulitan memastikan apakah kerabat mereka termasuk di antara korban yang telah ditemukan.
Di Chitwan saja, sebanyak 233 jenazah telah ditemukan, tetapi hanya sebagian kecil yang berhasil diidentifikasi. Fasilitas kamar jenazah di wilayah tersebut hanya mampu menampung sekitar 50 jenazah sehingga kapasitasnya jauh terlampaui.
DNA Diambil Sebelum Dikubur
Pemerintah Nepal memastikan pemakaman tidak dilakukan tanpa terlebih dahulu menyimpan informasi yang dapat membantu proses identifikasi di kemudian hari.
Sampel DNA, foto, deskripsi fisik, nomor identifikasi, laporan pemeriksaan, serta lokasi makam dicatat untuk setiap jenazah. Dengan cara tersebut, keluarga masih dapat mengajukan pencocokan DNA apabila menemukan orang yang hilang dan jenazahnya baru dapat dikenali setelah pemakaman.
Setiap makam juga diberi penanda dan lokasi tepatnya didokumentasikan. Jika identitas korban kemudian diketahui, jenazah dapat ditemukan kembali untuk diserahkan kepada keluarga dan menjalani prosesi pemakaman sesuai keyakinan mereka.
Kondisi Kamar Jenazah Memprihatinkan
Banyak fasilitas kesehatan di wilayah terdampak kewalahan menangani jenazah. Di Bharatpur Hospital, jumlah jenazah yang ditampung bahkan mencapai sekitar 125, sementara kapasitas kamar jenazah hanya sekitar 50 orang. Kondisi jenazah yang terus membusuk juga menimbulkan persoalan kesehatan dan sanitasi.
Pejabat setempat mengatakan pemakaman sementara menjadi pilihan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat akibat proses pembusukan.
Pemerintah Nepal juga menyiapkan lokasi pemakaman di sejumlah wilayah lain apabila jumlah jenazah yang belum teridentifikasi terus meningkat.
Korban Banjir Terus Bertambah
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Nepal serta wilayah Tibet, China, terjadi setelah runtuhnya massa es dan batu di kawasan Himalaya pada 26 Agustus 2026. Air, lumpur, batu, dan material lainnya kemudian menerjang lembah serta permukiman di sepanjang aliran sungai.
Hingga 30 Agustus, jumlah korban tewas di Nepal dilaporkan mencapai 781 orang, sementara 2.502 orang masih hilang. Di wilayah Tibet, China, 16 orang dilaporkan meninggal dan 546 lainnya masih belum ditemukan.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian korban yang kemungkinan terseret arus ke wilayah hilir. Operasi juga menghadapi medan sulit, kerusakan infrastruktur, serta ancaman banjir dan longsor susulan.
Di tengah pencarian yang masih berlangsung, pemakaman sementara menjadi upaya Nepal untuk menangani jenazah yang belum dikenali tanpa menutup kemungkinan bagi keluarga untuk menemukan dan mengambil kembali jenazah mereka di kemudian hari.