Batu, 31 Juli 2026 – Harga telur ayam di Kota Batu, Jawa Timur, mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya sempat bergerak naik. Harga telur kini disebut berada di kisaran Rp19.300, kondisi yang menjadi perhatian terutama bagi peternak karena penurunan harga jual dapat menekan pendapatan mereka. Bagi konsumen, harga yang lebih rendah memang dapat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Namun, penurunan terlalu dalam berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila harga jual berada pada tingkat yang tidak sebanding dengan biaya produksi peternak. Kondisi pasar tersebut membuat keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlanjutan usaha peternakan kembali menjadi sorotan.
Pergerakan harga telur dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari jumlah produksi, permintaan pasar, distribusi hingga biaya pakan. Ketika pasokan meningkat sementara konsumsi tidak tumbuh pada tingkat yang sama, harga di tingkat produsen dapat mengalami tekanan. Kondisi juga dapat berubah setelah periode tertentu yang sebelumnya mendorong peningkatan permintaan berakhir. Telur merupakan komoditas pangan dengan perputaran cepat sehingga perubahan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan dapat segera tercermin pada harga. Peternak karena itu harus menghadapi dinamika pasar yang dapat berubah dalam waktu relatif singkat.
Harga Rp19.300 menjadi perhatian karena peternak tetap harus menanggung berbagai komponen biaya meskipun harga telur turun. Pakan menjadi salah satu pengeluaran utama dalam usaha ayam petelur, selain bibit, tenaga kerja, listrik, kesehatan ternak, transportasi, dan pemeliharaan kandang. Apabila harga jual terus melemah sementara biaya produksi bertahan tinggi, margin peternak dapat semakin tipis. Tekanan berkepanjangan bahkan dapat membuat sebagian pelaku usaha mengurangi populasi ternak atau menunda pengembangan kandang. Situasi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi pasokan pada periode berikutnya.
Fluktuasi juga dapat memberikan dampak berbeda antara peternak, pedagang, dan konsumen. Penurunan harga di tingkat produsen belum tentu langsung diterima konsumen dengan besaran yang sama karena terdapat biaya distribusi dan margin pada setiap rantai perdagangan. Karena itu, pemantauan harga dari kandang hingga pasar menjadi penting untuk melihat bagaimana perubahan terjadi pada setiap tahapan. Informasi tersebut dapat membantu pemerintah mengetahui apakah penurunan berasal dari kelebihan pasokan, perubahan permintaan, atau faktor distribusi. Data yang akurat juga dibutuhkan sebelum menentukan langkah stabilisasi.
Kota Batu dan kawasan Malang Raya memiliki aktivitas peternakan yang berkaitan erat dengan kebutuhan pangan masyarakat di berbagai wilayah. Perubahan harga pada tingkat peternak dapat memengaruhi keputusan produksi dan distribusi dalam jangka menengah. Ketika harga rendah berlangsung lama, peternak dapat menyesuaikan skala usaha untuk mengurangi kerugian. Dampaknya baru dapat terlihat beberapa waktu kemudian ketika produksi mulai menurun. Apabila permintaan kembali meningkat sementara pasokan berkurang, harga berpotensi bergerak naik secara cepat.
Upaya menjaga stabilitas tidak harus berarti mempertahankan harga pada satu angka tertentu. Hal yang lebih penting adalah mencegah perubahan ekstrem yang merugikan produsen maupun konsumen. Pemerintah dapat memperkuat pemantauan pasokan, kebutuhan pasar, dan biaya produksi sehingga potensi tekanan harga dapat diketahui lebih awal. Koordinasi distribusi antardaerah juga dapat membantu ketika suatu wilayah mengalami kelebihan pasokan sementara daerah lain membutuhkan tambahan produk. Penyerapan oleh sektor usaha makanan maupun kebutuhan program tertentu juga dapat memengaruhi keseimbangan pasar apabila dilakukan melalui mekanisme yang tepat.
Bagi peternak, efisiensi produksi menjadi semakin penting ketika harga berada dalam tekanan. Pengelolaan pakan, kesehatan ayam, produktivitas kandang, dan pencatatan biaya perlu dilakukan secara cermat untuk menjaga usaha tetap bertahan. Namun, efisiensi memiliki batas apabila harga pasar turun terlalu jauh dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan. Akses terhadap informasi harga dapat membantu peternak menentukan waktu dan jalur pemasaran yang lebih menguntungkan. Penguatan kelembagaan kelompok peternak juga dapat meningkatkan posisi mereka dalam distribusi dan pemasaran.
Anjloknya harga telur di Kota Batu menjadi Rp19.300 setelah sebelumnya sempat naik menunjukkan cepatnya perubahan yang dapat terjadi pada komoditas pangan. Harga murah memberikan keuntungan bagi konsumen, tetapi tekanan berkepanjangan terhadap peternak dapat berdampak pada keberlanjutan produksi. Karena itu, perkembangan pasokan, permintaan, biaya pakan, dan rantai distribusi perlu terus dipantau untuk mencegah ketidakseimbangan semakin besar. Stabilitas harga menjadi penting agar masyarakat tetap memperoleh telur dengan harga terjangkau sementara peternak mendapatkan nilai jual yang layak. Keseimbangan tersebut diperlukan untuk menjaga pasokan telur tetap tersedia secara berkelanjutan di Kota Batu maupun wilayah sekitarnya.