Jakarta, 3 Oktober 2026 – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengembangan wisata gastronomi dengan memanfaatkan kekayaan kuliner yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia. Makanan tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan wisatawan, tetapi juga bagian dari pengalaman perjalanan yang dapat memperkenalkan identitas suatu daerah. Keanekaragaman bahan, teknik pengolahan dan tradisi kuliner menjadi modal untuk menciptakan produk wisata yang memiliki karakter kuat. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas daya tarik destinasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Wisata gastronomi menawarkan pengalaman yang lebih luas dibandingkan sekadar menikmati makanan. Wisatawan dapat mengenal asal bahan pangan, proses produksi, cara memasak hingga cerita budaya yang berada di balik suatu hidangan. Pendekatan tersebut membuat kuliner menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat setempat. Setiap daerah memiliki peluang mengembangkan pengalaman gastronomi berdasarkan kekhasan yang telah tumbuh secara turun-temurun.
Kemenpar mendorong agar potensi tersebut dikemas menjadi produk wisata yang menarik tanpa menghilangkan karakter lokal. Pengembangan dapat melibatkan pelaku usaha kuliner, petani, nelayan, perajin hingga komunitas yang menjaga tradisi pangan. Keterlibatan berbagai pihak memungkinkan manfaat pariwisata tersebar lebih luas di sepanjang rantai ekonomi. Produk lokal juga dapat memperoleh nilai tambah ketika menjadi bagian dari pengalaman wisata yang terintegrasi.
Kualitas pelayanan menjadi faktor penting dalam pengembangan wisata gastronomi. Kebersihan, keamanan pangan, konsistensi rasa dan kemampuan memberikan informasi mengenai hidangan perlu diperhatikan oleh pelaku usaha. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dapat membantu meningkatkan standar layanan tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing daerah. Pengalaman yang baik dapat mendorong wisatawan kembali berkunjung maupun merekomendasikan destinasi kepada orang lain.
Promosi digital juga dapat digunakan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada pasar yang lebih luas. Cerita mengenai bahan lokal, proses memasak dan sejarah suatu hidangan dapat dikemas menjadi konten yang menarik bagi calon wisatawan. Penggunaan platform digital memberikan kesempatan bagi pelaku kuliner skala kecil untuk mendapatkan perhatian lebih besar. Strategi tersebut sekaligus dapat memperkuat citra destinasi melalui identitas gastronominya.
Pengembangan wisata berbasis kuliner juga memiliki hubungan dengan pelestarian budaya dan keberlanjutan. Meningkatnya permintaan terhadap makanan khas dapat membantu mempertahankan penggunaan bahan lokal serta pengetahuan memasak tradisional. Namun, pengembangan tetap perlu memperhatikan ketersediaan bahan dan kemampuan lingkungan agar pertumbuhan pariwisata tidak menimbulkan tekanan berlebihan. Keseimbangan antara kepentingan ekonomi, budaya dan lingkungan menjadi bagian penting dari pengelolaan gastronomi.
Melalui pengembangan wisata gastronomi, Kemenpar berupaya menjadikan kekayaan kuliner sebagai salah satu kekuatan pariwisata Indonesia. Setiap daerah memiliki kesempatan membangun pengalaman perjalanan yang berbeda berdasarkan makanan, tradisi dan cerita masyarakatnya. Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha dan komunitas diperlukan agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara konsisten. Wisata gastronomi diharapkan memperkaya pilihan perjalanan sekaligus memperkuat posisi kuliner Nusantara sebagai bagian penting dari identitas pariwisata Indonesia.